Bonjour Paris (meliha paris dari perspektiv lain)

00.24

hai, tengah malam banget nih dan mata belum juga letih padahal badan udah berontak, alhasil tarik laptop ketempat tidur dan berujung nge-blogwalking. Yeah, gue orang suka membaca dan (belajar) suka menulis dengan baik. Akhirnya, gue memutuskan untuk menulis.

Banyak sekali orang yang gue temui ingin bisa menyentuh daratan eropa. Bahkan yang lebih spesifik mereka menyebutkan "gue ingin ke paris" "gue pengen liat eiffel" yang lebih extrim lagi "gue mau bulan madu di paris, ah romantis banget" well... ga ada yang salah dengan itu semua. Pemberitaan, kisah-kisah romantis dan cerita-cerita orang emang sukse bikin orang lain kabita untuk mengunjungi suatu kota yang ada di eropa situ. Begitu pun dengan gue, tergila-gila dengan paris.

Paris itu adalah ibukota dari negara prancis. Salah satu negara kaya di Eropa. Paris di nobatkan menjadi salah satu pusat mode dunia. Ya, mungkin kalian bisa berasumsi mengapa prancis sekaya itu. Kalo boleh gue tebak pasti asumsi kalian devisa yang masuk bukan ? mulai dari pembangun pertokoan, designer sampai ke pariwisatanya kan ? jawabannya salah. Prancis menjadi negara yang kaya karena pertaniannya. Gue tau hal ini juga cukup takjub. Gue bahkan gatau kalau paris adalah negara agraris. Eits, tapi jangan salah petani di prancis itu konglomerat beda jauh dengan keadaan di Indonesia yang katanya siih... menurut struktur ekonomi nya siih.. negara agraris. Tapi bukan itu yang bakal menjadi sorotan tulisan gue kali ini.

Alhamdulilah, gue mendapat kesempatan untuk mewujudkan salah satu mimpi gue untuk menginjakan kaki di kota paris. Kalo kata orang-orang kota cinta. Bonjour, Paris ! saking excited nya gue udah mengumpulkan begitu banyak expectation yang sangat tinggi di Paris ini, dan tau gue dapet jatah 2 hari di Paris bikin gue makin bahagia.

Gue berangkat ke paris by bus dari Belgia, setelah liat plang jalan di highway ada tulisan "PARIS" mata gue lang standby. Welcome to paris. Sambutan yang tidak hangat dari paris, rombongan tour gue terkena macet. Ga jauh beda dengan jakarta, bener-bener stuck. Liat kanan-kiri well... sama seperti negara-negara eropa lainnya. Bangunnya seragam dengan warna seragam. Tapiii... yak gabisa disangkal you can shopping till drop here. Sepanjang jalan banyaaaaaaak sekali pertokoan mulai dari brand lokal sampai brand internasional seperti zara, H&m, promod dan lain lain bertebaran di setiap pojok jalan. Jadi keinget jakarta, bahkan Zara aja dianggap sebagai "middle-up-brand" di negara gue. Di Paris ? haha uda kaya indomaret. Tiap pengkolan ada :P (lebay sih) dan harganya juga jauuuuh sih. Disana, blouse-blouse bisa cuma 79ribu rupiah-an. Nyampe Indonesia ? you can answer it by your self. Buat ibu-ibu nya mungkin paris adalag another "heaven" on earth. Luxury brand semacam LV, Prada, Channel, Dior, Miu Miu dan lainnya disana harganya jauuuuh dari store di Indonesia. Kalo di Indonesia bisa 30jutaan disana bisa cuma 20jutaan. Ga nanggung ya beda harganya ? Kalo masalah belanja udah deh cocok paris dibilang pusat mode dunia. (but still, i do recomen you shopping in Italy, esp Milan!)

akhirnya gue bisa ngeliat secara langsung menara eiffel yang terkenal itu. foto-foto seneng banget rasanya. Tapi yaudah, gitu aja. To be honest paris ga seindah itu. Ga seindah pantai ujung genteng, ga seindah ngeliat sunset di Bali, ga seindah tiduran di rumput puncak ngeliat bintang di langit (maap mulai dangdut). seriously! mungkin karena waktunya kurang pas kali ya, seharusnya gue dateng nya pas "magic hour" ketika matahari mulai tenggelam. Disitu letak keindahan eiffel. Sayangnya... matahari terbenamnya jam setengah 10 malem waktu gue kesana dan dinginnya uda ga kira-kira. dibanding eiffel gue lebih mengagumi arc de triomphe. Menurut gue itu tuh megaaaah banget!

sebelum ke paris, gue ke negara yang Indah nya subhannallah. Dimana, lo bisa ngeliat view hamparan rumput hijau, tebing abu-abu, pegunungan yang atasnya diselimuti salju. Yak, switzerland. Disana gue sama sekali ga nemuin yang namanya pengemis. Selidik punya selidik (gue baru tau pas di kampus) ternyata swiz sangat melindung hak-hak sipil warga negara nya. Salah satunya, hak hidup yang layak. Jadi, tiap ada orang-orang yang katakanlah "job-less" or "home-less" akan ditanggung negara kesejahteraan hidupnya. Katanya lagi nih, kalo ada warga negara yang ngeliah penduduk sipil nge-gelandang mereka akan menuntut negara, WAAAAHHHHH keren banget kan ? kapan ya Indo bisa gitu ? :/ . Nah balik lagi nih ke paris, di Paris gue bisa menemukan gelandangan disana-sini dan minta-minta. I wonder, ini kan negara kaya kenapa sih ga ada tanggung jawab akan warga negaranya ? Ga cuma itu gue nemuin orang gila, dan... COPET dong disana. Hilanglah keindahan paris di mindset gue. Ternyata itu semua efek dari perekonomian dunia yang lagi krisis imbas ke negara-negara eropa sangat besar tingkat penganggurannya naik berapa persen gitu gue lupa. Pantesan aja banyak pengemis, orang gila dan copet.

Well, 2 hari gue rasa terlalu singkat untuk menghakimi paris. Gue butuh waktu lebih panjang. Mungkin gue akan kesana lagi (alasan) haha. Gue belum cob transportasi disana padahal eropa itu terkenal banget dengan transportasi umum nya even america can't beat it. Belum pernah kena magic hour, belum pernah ke eiffel pas udah gelap dan yang paling penting belum punya pacar pas kesana hahaha. Mungkin itu ngaruh juga kali ya dengan "keromantisan" paris.

Nah, sekian dulu deh cerita Paris gue. next time gue bakal cerita negara-negara lainnya deh. See ya !






You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images

Google+ Followers